Secangkir Kopi untuk Setan

  • Bagikan
Dinno Brasco, Penulis Buku Indonesia dalam Secangkir Kopi

“ Kau selalu bisa membuat secangkir kopi,

Sehitam setan, sepanas neraka, semanis dosa!

–KH. Hasyim Wahid, Bunglon

 “Semenarik apa pun kekuasaan,

penelitian psikologis menunjukan

bahwa kekuasaan mematikan kepekaan

orang yang memilikinya.

Singkatnya, kekuasaan membunuh empati”
—Henry Kissinger, Elite Amerika

Mohon izin! Sudah ngopi sahabat-sahabat? Jangan lupa sruput kopi ya. Di hari Minggu yang santai, saya mau cerita-cerita soal apa yang terjadi kini setelah nonton Drakor yang sedang heboh berjudul All of Us are Dead. Ngeri banget ceritanya, begitu berbahayanya sebuah ide, pemikiran dan gagasan; membuat revolusi zombie. Ngeri dan kakeane memang, ternyata manusia lebih buas daripada zombie pada awalnya. Mungkin termasuk ‘rekayasa pandemi’ yang kita alami saat ini dengan segala pernak-perniknya.

Fareed Zakaria dalam bukunya Ten Lessons for a Post Pandemic World (2020) mengatakan, ”Pandemi yang mengerikan ini telah menciptakan peluang untuk melakukan perubahan. Pandemi ini telah membukakan jalan menuju dunia yang baru. Terserah kita untuk memanfaatkan peluang tersebut atau menyia-nyiakannya. Tidak ada yang tertulis.”

Ya tentunya tentang pandemi yang menakutkan, yaitu global coronavirus yang melanda diseluruh penjuru dunia. Data terkini total kasus Covid-19 yang mengkarantina dunia, tembus korban 400 juta jiwa, termasuk banyak saudara-saudari kita di negeri tercinta Indonesia. Amerika Serikat menjadi negara tertinggi yang dilanda corona. Namun, sebelum bercerita itu semua, ada yang kita lupa, yakni nikmat Tuhan bagi kita yakni sebuah negara-bangsa. Negeri yang diserang wabah Omicron.

***

Di antara anugerah dan nikmat Tuhan yang terbesar adalah Tuhan telah menjadikan kita semua hidup di negeri dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Sangat indahnya pulau-pulau di bangsa ini, hingga bangsa lain menyebut kita sebagai untaian zamrud khatulistiwa. Namun, sebenarnya Indonesia dimiliki dan dinikmati oleh siapa?

Indonesia, negeri kita adalah negeri yang memiliki tiga takdir besar. Takdir pertama adalah takdir geografis. Berapa luas tanah dan daratannya? 195 juta hektar. Kalau peta Indonesia dihamparkan di atas peta dunia, besarnya hamparan negeri ini terbentang dari Kota London di Inggris sampai Teheran, di Iran. 195 juta hektar. Lebih dari seluruh negara Eropa.

Posisi takdir geografis ini sangat strategis membuat negara-negara lain ikut “berebut pengaruh dan mencipta proxy.” Takdir geografis ini oleh kalangan pakar disebut geography is destiny. Lalu takdir kedua adalah demography is destiny. Raut wajah demografi bangsa menunjukan pertumbuhan demografi kaum mudanya yang keren, progresif, kreatif, dan inovatif.

Lihatlah guys! Jika para pejabat republik ini abai, Indonesia akan mengalami bencana sosial dengan segala kekacauannya. Ini adalah kesempatan sejarah, yang sering kali kita abaikan. Sedangkan takdir ketiga adalah identity is destiny. Lebih dari 300 etnik, yang terdiri dari 700 bahasa yang membentuk konsensus nasional dengan apa yang dinamakan Indonesia. Belum lagi suku, agama, dan budaya. Ngeri banget, ya!

Kemudian jika memang tiga takdir itu adalah kenikmatan dari Tuhan dan kesempatan kita pastinya jadi bangsa yang maju dan makmur, bukan bangsa yang muter-muter dalam lingkaran setan penuh dengan bencana. Sebuah lingkaran history misfortune. Bangsa yang penuh duka cita, langit Indonesia yang kelabu. Warna-warni bencana dan malapetaka seperti yang kita alami saat ini yakni wabah corona dan omicron yang ngeri nan menyayat hati di penjuru negeri.

Ya Tuhan kami! Di mana pun itu. Kapan pun itu. Bagaimana pun itu. Kepada Tuhan, kita sandarkan tumpuan. Mohon curahan kasih dan ampunan.

Apa yang Terjadi?

Dalam sebuah kesempatan ngopi senjadengan Om Hafiz—kolega yang paham dunia tarekat atau sufisme, juga ilmu hubungan internasional, respon dia terkait coronavirus dan segala yang terjadi saat ini, menarik dikaji sih. “Mungkin Tuhan ingin manusia istirahat Mas, sudah terlalu larut mungkin kita mengejar dunia,”katanya. Saya dengan saksama mendengarkan paparannya, walaupun ada hal yang kakeane, yaitu setiap kejadian kayak gini, kapitalisme global dan nasional pasti mengeruk untung besar di tengah ketakutan massa.

Lihatlah, begitu banyak lautan manusia yang memburu dan ngantre jajanan dan makanan seabrek di super-market, swalayan, mall-mall, Indomart dan Alfamart, bukannya di warung-warung tetangga sebelahnya. Sebuah pemandangan ketakutan manusia kepada makanan dan pangan. Bahkan mungkin takut kepada kematian. Padahal Kitab suci sudah memperingatkan kita semua: Katakanlah, sesungguhnya maut yang dari situ kamu melarikan diri, sesungguhnya ia akan menemuimu juga,… (QS. Al-Jumu’ah [62]: 8). “Setiap tarikan nafasmu adalah menuju kuburanmu,” demikian dawuh Sayyidina Ali.

Ada apa dengan bangsa kita? Apa yang terjadi di negeri tercinta ini? Di penjuru dunia juga terjadi; Amerika, China, Italia, Korsel, Singapura, Iran, Spanyol, Brazil dan 170 negara lainnya yang dilanda wabah virus corona dan omicron. Mengapa kenikmatan dari Tuhan telah berubah wujud jadi malapetaka dan bencana?

Mengapa kekayaan alam yang merupakan anugerah Tuhan berubah jadi bencana banjir, longsor, gempa dan lainnya? Akankah ini adalah faktor keserakahan manusia? Atau ada faktor lain cuk? Misalnya bocornya senjata biologis, konspirasi atau dampak pertengkaran dari perang dagang global antara negara China vs Amerika. You setuju yang mana? Atau punya paparan lain seperti ramainya perdebatan novel besutan Dean Koontz berjudul The Eyes of Darkness di jagat medsos? Terserahlah you melihatnya! Namun yang jelas, langkah melawan corona dan omicron di negeri kita wajib digelorakan secara berjamaah. Berbuatlah, bergeraklah untuk sesama umat manusia! Terutama pejabat negara. Seriuslah berbuat baik untuk negera.

***

Sekali lagi ada apa dengan negeri tercinta ini?

Kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan analisa ilmiah atau dengan sekadar mengotak-atik otak. Namun, bagaimana dengan penjelasan kitab suci al-Quran? Karena mungkin ada salah-satu sebab-sebab gaib, di samping sebab-sebab lahir. Padahal sains adalah makhluk bermata satu, yang melacak berbagai peristiwa pada sebab-sebab material. Jika sebab-sebab material itu tidak ditemukan, sains berkata: kejadian ini tidak rasional.

Di antara sebab-sebab gaib yang memengaruhi hidup kita adalah perilaku moral kita. Tuhan menyebut sebab kejatuhan dan hancurnya satu generasi pada perilaku mereka yang melalaikan sembahyang dan mengikuti hawa nafsunya (QS. Maryam [19]: 59).

Dalam surat al-A’raf ayat 96, Tuhan menisbatkan terbukanya keberkahan dari langit dan bumi pada perilaku sebuah bangsa yang beriman dan bertakwa. Di surat Al-Anfal ayat 53-54, Tuhan mencabut kenikmatan pada satu bangsa karena bangsa itu sudah menjadi keluarga besar Fir’aun: “(Siksaan) yang demikian itu terjadi karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu bangsa sehingga bangsa itu mengubah apa yang ada di dalam diri mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Keadaan bangsa itu sama dengan keadaan keluarga Fir’aun serta orang-orang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya. Maka kami binasakan mereka dengan dosa-dosa mereka dan kami tenggelamkan keluarga Fir’aun. Semuanya adalah orang-orang yang zalim.”

Jangan-jangan langit kelabu Indonesia yang menimpa kita awal tahun 2020 sampai awal 2022 karena seluruh bangsa ini sudah menjadi keluarga Fir’aun wa ashabihi. Politikus yang serakah, penipu dan kejam, tapi halus mainnya pakai agama dan ideologi negara. Ampun dah!

Jangan-jangan para pengendali negara, pejabat, dan pengelola kekuasaan di antara kita sudah menjadi Fir’aun-Fir’aun kecil, yang menggunakan daya politik dan ekonominya untuk memeras yang lemah, mempermainkan nasib rakyat, menindas yang rendah dan merampas hak-hak orang yang tidak berdaya, abai dan ngga’ peduli nasib kaum sudra dan paria, serta menyingkirkan jama’ah rawa-rawa.

Perilaku kita sudah seperti layaknya para dewa-dewi. Maklum berkuasa guys! Korupsi di  mana-mana terjadi mas bro. Yang parah, banyak dari pejabat negeri ini yang mengumpulkan duit dari penderitaan rakyat karena wabah corona dan omicron.

Jangan-jangan orang-orang berharta itu adalah kita, pengusaha dan konglomerat yang sudah menjadi Qarun, sang rakus, mengumpulkan dunia dengan tidak peduli halal dan haram. Semuanya disikat, guys. Demi duit, kita tak ragu-ragu menghajar dan menghantam, menyakiti, bahkan ‘membunuh’ sesama saudara kita. Kita sudah jadi binatang-binatang buas, karena memang begitulah kita sebenarnya lebih buas dari macan dan asu. Meskipun tidak dengan kadar yang tinggi, kita sebenarnya anggota kebun binatang Ragunan, om.

***

Julukan zamrud khatulistiwa sudah kita ubah menjadi rimba raya yang mengerikan bos. Seperti kata Bung Iwan Fals, “Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi, punah dengan sendirinya akibat rakus manusia”. Para pejabatnya telah kehilangan nurani dan empati. Menebar baliho di sepanjang sudut negeri, meski rakyatnya tengah dilanda pandemi. Bahkan, soal kritik mural dan coretan dinging kota, pembuatnya dikejar-kejar hingga ke ujung dunia, tetapi koruptor, pembalakan liar, deforestasi hutan, dan kekerasan dan intimidasi rakyat di desa Wadas dibiarkan saja. Indonesia saat ini tengah diisi para serigala yang buas dan lapar, menerkam siapa saja yang lemah, homo homini lupus kata Thomas Hobbes.

Jangan-jangan para intelektual keren dan top markotop negeri ini sudah menjadi Haman dan jaringannya. Mereka bermetamorfosis jadi penggerak pikiran, propagandis yang mempersembahkan kecerdasannya untuk mengabdi kepada aliran hitam kezaliman. Kecerdikannya digunakan untuk meliciki rakyat. Kepintaran kita manfaatkan untuk ‘menyesatkan’ orang-orang lemah dan menipu umat atas nama agama dan dasar negara. Semuanya total demi kekuasaan belaka tanpa kepedulian akan kemanusiaan. Harta, tahta, dan nama adalah trilogi perjuangannya.

Jangan-jangan tokoh agama kita sudah berubah jadi Bal’am bin Ba’ura. Kita jual ayat-ayat suci untuk memenuhi saldo rekening bank kita. Kita kemas ambisi duniawi dengan ritus-ritus kesalehan langit. Seyogianya kita langkahkan kaki-kaki kita ke gubuk-gubuk rakyat, mengetuk pintu mereka, memberikan bantuan kepada warga yang tertimpa masalah dan sakit. Namun yang terjadi, mereka abai nasib rakyat. Umat diperas seperti sapi perah oleh kapitalis, jadi sekrup-sekrup mesinnya.

Dan kini, kita mengayunkan langkah ke markas besar para penguasa dan geng oligarki, menundukkan kepala kita di hadapan mereka, seraya menggunakan ayat-ayat Tuhan untuk membenarkan tirani dan kezaliman mereka. Padahal kita adalah hamba Tuhan, bukan hamba politikus lokal, nasional, dan global.

Jangan-jangan kita semua sudah tidak peduli dengan perintah-perintah Tuhan. Kita semua sudah jadi budak-budak dunia. Di tempat ibadah, kita membesarkan nama Tuhan yang akbar. Di luar tempat ibadah yang mulia, kita menyepelekan Dia. Di tempat ibadah, seluruh anggota badan kita pergunakan untuk beribadah kepada Tuhan, tapi di luar tempat ibadah, kita menggunakannya untuk bermaksiat sosial kepada-Nya.

***

Tangan-tangan dan jari-jemari yang kita angkat dalam untaian do’a-do’a kita adalah juga tangan-tangan yang bergelimang dosa-dosa kebangsaan. Lidah-lidah yang kita getarkan untuk menyebut nama Tuhan yang suci dan agung adalah juga lidah-lidah yang berlumuran kata-kata kotor, fitnah, cacian, kebencian, penghakiman dan makian kepada liyan di mimbar suci dan medsos. Aksi-aksi intoleransi dan persekusi kita lakukan dengan semena-mena dan barbar. Ternyata kelakuan kita masih jahiliah banget di era baru digital. Pembela dasar negara juga banyak yang menipu rakyat.

Kepala yang kita rebahkan dalam sujud-sujud adalah juga kepala yang kita dongakkan dengan angkuh dan sombong di hadapan hamba-hamba Tuhan. Sebuah rincian perilaku moral kita yang ngeri, yang berdampak besar kepada ekosistem sosial dan kebangsaan Indonesia kita.

Jangan-jangan tingkah pola kita yang korup, jahat, barbar dan sombong. Jangan-jangan kita semua pernah dicium setan. Serta jangan-jangan hal itu semua yang menyebabkan prahara dan kekacauan bangsa berwujud wabah corona dan omicron yang melanda negeri ini. Padahal seperti yang dikatakan Rutger Bregman dalam karya terbarunya berjudul Humankind, A Hopeful History (2019), “bahwa sebagian besar orang, pada dasarnya, itu baik.”

Percaya ngga you?

Apa yang Mesti Diperbuat?

Yuval Noah Harari, sejarawan dari Israel dalam Homo Deus (2017) telah menunjukkan bahwa dalam ratusan tahun ini, manusia telah berhasil mengembangkan teknologi kesehatan mengatasi wabah. Misalnya wabah pes hitam pada 1330-an telah membunuh lebih dari 75 juta jiwa. Wabah itu mengurangi populasi secara drastis hingga seperempat penduduk Afrika Utara dan Eropa.

Dengan kecanggihan teknologi kesehatan, para pakar berhasil menemukan berbagai obat anti-virus, sehingga mampu mencegah berkembangnya korban dalam skala global. Meski virus baru sering muncul dalam waktu beberapa tahun, jumlah korban dapat ditekan. Inovasi teknologi medis berhasil memberantas wabah.

Tentunya tidak cukup, ada cara lain dalam melawan coronavirus. Begitu banyak kalangan yang punya pandangan menyalahkan epidemi coronavirus secara global, dan mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi lebih banyak wabah adalah dengan mengglobalisasi solidaritas persaudaraan. Penawar epidemi coronavirus bukanlah pemisahan, melainkan kerja sama dalam kepemimpinan kemanusiaan, kata Yuval. “Epidemi atau wabah akan selalu ada dan manusia selalu menemukan jalan keluarnya. Karena manusia mencoba untuk hidup selamanya.” Akhirnya, tampil vaksin Sinovac dari China, Astrazeneca, Pfizer, dan lainnya. Belum lagi kini ada vaksin ketiga untuk menghadapi Omicron. Ampunn dah! Hanya kepada Tuhan, kita mohonkan pertolongan untuk kebaikan bangsa ini. Always there is the silver line in the cloud.

Situasi terkini, suasana batin Indonesia kita tengah bermuram durja, the doom and the gloom. Apakah semuanya merupakan sebentuk kearifan, a kind of wisdom in a twisted form untuk menghindari puspa ragam bencana dan malapetaka di masa depan?

Marilah semua anak bangsa mengubah musibah dan bencana wabah corona, omicroon dan malapetaka gempa, gunung meletus, longsor, banjir yang melanda bangsa, yang kita alami sekarang menjadi nikmat kembali, yakni dengan mengubah perilaku moral kita. Tinggalkan arogansi dan kesombongan Fir’aun, kerakusan dan keserakahan Qarun, kelicikan Haman dan kemunafikan Bal’am. Semuanya demi padamu negeri, Indonesia tercinta yang aman, damai, dan makmur. Sebagaimana syair dari WS Rendra:

Aku ingin kembali ke jalan alam,

Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah.

Tuhan, aku cinta pada-Mu.”

****

Marilah kita berbuat, kolaborasi satu barisan dan satu jiwa agar umat manusia segera terbebas dari wabah corona dan omicron. Presiden Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin harus bergerak total dengan langkah-langkah yang terukur. Bersama menteri-menteri, stafsus milenial yang katanya super keren (terjunkan mereka di lapangan Pak De), kepala daerah, tokoh-tokoh agama, pamong rakyat dan tokoh masyarakat. Komunitas-komunitas di penjuru Tanah Air mesti bersatu padu dalam solidaritas sosial, ditautkan dalam satu jalan seiring memberesi krisis kebangsaan (problem of evils).

“Tugas seorang negarawan adalah mendengarkan langkah kaki Tuhan yang berderap melalui sejarah, dan berusaha menangkap ekor jubah-Nya ketika Dia berlalu,” kata Otto von Bismarck. Inilah sebuah era pertaruhan besar Presiden Jokowi di hadapan rakyatnya dan di tengah pergaulan dunia. Semoga Presiden terhormat selalu sabar dan tabah dalam menggerakkan kapal besar bernama Indonesia. Sebagaimana dawuh Sayyidina Ali, “Siapa pun yang mengendarai kuda kesabaran pasti akan menemukan jalannya, menuju medan kemenangan.”

Kita sebagai umat beragama dan warga negara yang baik, seluruh rakyat mesti bergandengan tangan dan hati, bahu-membahu, dan bergotong-royong memberesi prahara bangsa. Hempaskan sikap egois kita semua untuk mengeluarkan semua anak bangsa dari gua kegelapan menuju cahaya pencerahan sebagaimana jalan hidup Sang proklamator, Soekarno-Hatta.

Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau berbuat dosa. Tuhan kami, jangan timpakan kepada kami beban seperti Engkau timpakan kepada umat sebelum kami. Tuhan kami, jangan timpakan kepada kami siksa yang kami tidak sanggup memikulnya. Maafkan kami, sayangi kami, Hanya Engkau sajalah Pelindung kami.

Akhirul Kalam

Point penting yang wajib kita resapi ialah banyak barisan pakar dari bidang ekonomi, politik, dan sosial yang berkata jujur,“Pandemi Covid-19 tidak diterangkan secara ekonomi, politik dan lainnya, karena penyebabnya bukan faktor ekonomi.”

Kiranya kita semua mesti bertanya kepada mahaguru sufi bernama Maulana Jalaluddin Rumi. Jangan-jangan sebabnya sama, kita pernah melewati rakyat miskin dan ‘meludahi’ mereka. Jangan-jangan banyak politisi, pamong rakyat dan pejabat negara yang serakah, sombong, rakus ‘makan uang rakyat’ dan menggarong APBN demi kepentingan diri sendiri, keluarga, golongan dan group kapitalis asing.

Atas nama agama menipu rakyat, atas nama dasar negara membohongi rakyat juga. Atas nama kemanusiaan, dianya sendiri bukan sosok manusia. Bahkan ada yang ngaku-ngaku Gus segala. Mungkin untuk menyihir umat agar kagum dan silau Men! Anda pernah ketipu ngga? Manusia yang merasa hebat, merasa tulisannya paling bagus sejagat, dan merasa alim. Sebagaimana ucapan setan; Ana khairun minhu, aku lebih baik dan keren dari dia. Mereka semua masuk ketegori manusia yang pernah dicium setan. Semoga kita semua dijauhkan dari karakter syetan ya bro and sista. Naudzubillah mindzalik. Jangan ditiru ya Cong!

Lihat aja saat ini, zaman pandemi yang begitu ngeri, harta kekayaan pejabat negara makin melejit ke angkasa. Bahkan Bill Gates mengeruk untung ribuan trilyun dari bisnis vaksin se-antero jagat. Kan jancuk!

Singkat kata, akan seperti apa Indonesia di masa kini dan masa depan? Apa masih dihajar coronavirus dan omicron sampai 2045 dan seterusnya? Akankah semua anak bangsa cemas memikirkan masa depan karena kita akan menghabiskan sisa usia disana. Apapun yang terjadi terhadap bangsa ini, tetap harus kita hadapi. Apa yang terjadi pada peradaban masa depan, kita sendiri yang tentukan. Waktunya realisme baru. Sudah waktunya kita punya pandangan baru atas umat manusia, khususnya bangsa Indonesia.

Dengan demikian, para pejabat negara dan ‘penipu berjas agama’ mesti ‘merebahkan dirinya’ di hadapan ummat, di hadapan rakyat. Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengganti bencana wabah di negeri tercinta selama ini dengan rahmat-Nya yang terindah. Amin Allahuma Amin.

Allahu yarham KH. Jalaluddin Rakhmat penah dawuh,”Ubahlah duniamu menjadi akheratmu”. Bumi manusia dan segenap masalahnya adalah medan tempur kita berbuat baik kepada sesama, sebagaimana Tuhan telah berbuat baik dalam kehidupan kita semua. Ojo lemes kayak Iblis, setan. Insya Allah berkah. Mantap Bang Jago!

Perkenankan saya akhiri ngopi ngeri ini dengan kehadiran puisi legendaris Longfellow,”Let us , then, be up and doing, with a heart for any fate, still achieving, still pursuing, learn to labor and to wait.”

Berkah selalu duhai pecinta kopi.

Mantap Bang Haji!

Terima kasih sudah berkenan membaca guys.[]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.