Jakarta, Liber Times-Perbedaan adalah sunnatullah, masyarakat harus dewasa dalam menghadapinya. Adanya ruang terbuka untuk mendiskusikan perbedaan itu seyogyanya harus terbuka lebar untuk mencapai titik temu. Titik temu inilah yang nanti akan melahirkan toleransi antar elemen masyarakat.
Pesan itulah yang mengemuka saat Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Dian Nafi menyampaikan ceramahnya yang diunggah di Youtube.
Menurut Kiai Dian, toleransi sangat dibutuhkan dalam kehidupan yang majemuk, seperti di Indonesia. Perasaan saling menghormati inilah sebagai kunci untuk membangun kemajuan bangsa, namun jika perbedaan hanya dipakai sebagai sumber perselisihan, maka Indonesia hanya akan didera konflik berkepanjangan. Hal ini menegaskan bahwa keinginan untuk hidup bersama dalam kedamaian hanya bisa terwujud jika masyarakatnya saling mengedepankan toleransi dengan mengesampingkan ego pribadinya.
“Dalam masyarakat yang majemuk merupakan hal yang lumrah akan adanya sebuah perbedaan. Oleh karena itu kemajemukan menyebabkan sulitnya dicapai sebuah titik temu. Tanpa adanya keinginan untuk mencapai titik temu, maka menciptakan toleransi adalah hal yang mustahil,” terang Kia Dian.
Tokoh yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad, Surakarta itu menekankan pentingnya harmonisasi antar masyarakat dan negara dalam rangka menciptakan ketentraman hidup di tengah masyarakat. Usaha integratif itu harus diusahakan untuk menciptakan keseimbangan sosial. Hal ini sesuai dengan prinsip kehidupan bagi warga negara Indonesia, bahwa Indonesia adalah rumah bersama, bukan hanya untuk satu golongan, di mana warganya hidup rukun dan sejahtera karena toleransi dan saling menghormati selalu dijaga.
“Oleh karena itu harmonisasi merupakan kebutuhan bersama dalam masyarakat yang majemuk. Selain itu, upaya-upaya integratif harus selalu diusahakan, bertumpu kepada prakarsa masyarakat dan negara untuk mencapai keseimbangan sosial,” pungkas ulama yang ahli dalam hal resolusi konflik itu.





