Jakarta, Liber Times—Menjelang Muktamar NU ke 34 di Lampung para kandidat calon semakin bermunculan, Said Aqil Siradj, Yahya Cholil Staquf dan As’ad Said Ali menjadi kandidat paling disoroti dalam percaturan muktamar mendatang. Yahya Staquf dan juga para pendukungnya termasuk Saifullah Yusuf dan Yaqut Cholil Qoumas menginginkan regenerasi dalam tubuh NU.
Regenerasi yang diusung oleh Yahya Staquf mendapatkan respon keras dari Wakil Katib Suriyah PWNU DKI, KH. Muzakki Cholish atau yang sering disapa Kyai Cholis. Regenerasi dalam tubuh NU seharusnya bukan regenerasi biologis atau persoalan umur, regenerasi dalam tubuh NU diawali dengan transformasi pemikiran dan Gerakan.
“Saya berpendapat selama berdirinya NU hingga saat ini tidak pernah terjadi regenerasi biologis, justeru yang terjadi adalah regenerasi pemikiran, majunya suatu peradaban karena pemikirannya yang maju dan mampu melampaui zamannya. Regenerasi itu alat ukurnya adalah kualitas dari umatnya” ucap Kholis dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/12/2021)
Pasalnya bagi Kyai Cholish, regenerasi membutuhkan durasi waktu yang cukup Panjang, karena untuk membangun suatu peradaban itu tidak sesingkat yang dipikirkan oleh Yahya Staquf dan kawan-kawannya.
“Kalau kita melihat peradaban manusia dalam al-Qur’an, regenerasi terjadi dalam tautan waktu yang begitu panjang, satu contoh, Tuhan meregenerasi umat manusia di era Nuh yang dalam al-Quran disebut sebanyak tiga kali yakni dalam surah al-Isra ayat 3, Maryam ayat 58, dan Yasin ayat 41” pungkas Kyai Cholish.
Dalam ayat-ayat itu Tuhan meregenerasi manusia 1200 tahun selanjutnya, yaitu ketika muncul resistensi antara sipil dan kekuasaan, dalam sejarahnya tercatat di era Ibrahim, yaitu Ketika dia vis a vis dengan Namrud sebagai penguasa dzalim.
“al-Qur’an sangat detail menjelaskan, bahwa Tuhan melakukan regenerasi dari mulai era Nuh ke Ibrahim hingga regenerasi jatuh pada era Muhammad Saw. Surat al-Maidah ayah 54 begitu jelas mengatakan tentang subtansi regenerasi, tolak ukurnya adalah kualitas keimanan. Artinya selama perjalanan peradaban manusia, regenerasi memakan waktu yang sangat panjang. Bukan hanya persoalan umur atau biologis” tadasnya.
Regenerasi yang dimotori oleh Yahya Staquf dan kawan-kawan adalah regenerasi umur, yang muda menentang yang tua. Dalam tradisi NU ini bertentangan denga napa yang diajarkan oleh guru-guru di Pesantren, tidak bisa disamakan antara kepemimpinan di NU dengan kepemimpinan sebuah Negara.
“Nabi Muhammad juga menceritakan bagaimana regenerasi ummat setelahnya, dalam hadits tentang Qurun (Era/Zaman), sebaik-baiknya zaman adalah zamanku, lalu setalahku, setelahnya, hingga setelahnya lagi. Perjalanan Qurun ini sangat panjang, para ulama menyebutnya dalam 5 generasi, generasi Nabi Muhammad, Sahabat, Tabi’in, Atba’ at-Tabi’in, Ulama dan ummatnya. Alhasil tidak bisa regenerasi itu kita ukur dengan jarak umur, melainkan regenerasi yang ideal adalah regenerasi pemikiran. Seperti yang dilakukan oleh KH. Ahmad Siddiq dan Gus Dur ketika NU harus Kembali ke Khittah 1926, itu adalah regenerasi yang ideal, NU Kembali menjadi jam’iyah bukan lagi partai politik” lanjutnya.
NU menemukan sebuah adagium yang sangat popular dan menjadi sebuah pegangan bagi masyarakat NU yaitu al-Muhafadzatu ‘ala al-qadiem al-shalih wal akhdzu bi al-jadiedil ashlah, menjaga yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.
“Kyai NU itu selalu mampu menyelaraskan pemikirannya dengan konteks zamannya, itu adalah hasil dari refleksi dari berbagai pengetahuan yang dipejarinya, logika mathiqnya selalu berjalan. Dalil paling kuat tentang regenerasi kualitas adalah semboyan besar warga NU yakni al-Muhafadzah ‘ala al-qadiem al-shalih wal akhdzu bi al-jadiedil ashlah. Kita belum menemukan yang “ASHLAH” maka harus mempertahankan yang “SHALIH”, regenerasi dalam tradisi NU selalu berbasis pemikiran agar terjadi kesinambungan, bukan regenerasi asal-asalan!” tutupnya.
